Israel Tolak Visa Pejabat PBB Gegara Komentar Sekjen soal Hamas



Jakarta, CNN Indonesia —

Israel menolak visa para pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke Israel buntut komentar Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengenai milisi Hamas Palestina.

Duta Besar Israel untuk PBB, Gilad Erdan, pada Rabu (25/10) mengatakan langkah tersebut untuk memberi pelajaran bagi PBB.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Karena pernyataan [Guterres], kami akan menolak visa bagi para perwakilan PBB,” kata Edan kepada Army Radio, seperti dikutip Al Jazeera, Rabu (25/10).

“Kami sudah menolak visa untuk Sekretaris Jenderal untuk Urusan Kemanusiaan Martin Griffiths. Sudah tiba waktunya untuk memberi mereka pelajaran,” lanjut dia.

Ancaman Israel ini dilontarkan setelah Guterres di Dewan Keamanan PBB menyalahkan Israel telah melanggar hukum humaniter internasional atas kekerasan di Jalur Gaza.

[Gambas:Video CNN]

“Saya sangat prihatin dengan pelanggaran yang jelas terhadap hukum humaniter internasional yang kita saksikan di Gaza. Biar saya perjelas: Tidak ada pihak dalam konflik bersenjata yang berada di atas hukum humaniter internasional,” kata Guterres, Selasa (24/10).

Guterres tidak menyebut “Israel” secara gamblang dalam pernyataan itu. Namun yang menyerang Gaza saat ini hanyalah Israel, sebagai respons atas serangan Hamas pada 7 Oktober lalu di sejumlah kota Negeri Zionis.

Guterres juga mengatakan serangan Hamas di Israel “tidak terjadi begitu saja”, sebab Palestina menurutnya telah “mengalami 56 tahun pendudukan yang mencekik” oleh Israel.

Mendengar pernyataan Guterres ini, Israel pun meradang sampai-sampai sejumlah pejabatnya mendesak sang Sekjen mundur dari jabatan.

Dalam unggahan di media sosial X, Edan dengan tegas menuntut Guterres mengundurkan diri.

“Sekretaris Jenderal PBB yang menunjukkan pemahaman terhadap kampanye pembunuhan massal anak-anak, perempuan, dan orang tua tidak cocok untuk memimpin PBB,” tulis Gilad Erdan di X atau Twitter.

“Saya menuntutnya untuk segera mengundurkan diri. Tidak ada pembenaran atau gunanya berbicara dengan mereka yang menunjukkan belas kasihan atas kekejaman paling mengerikan yang dilakukan terhadap warga Israel dan orang-orang Yahudi,” lanjutnya menegaskan.

Menteri Luar Negeri Israel Eli Cohen, yang saat itu juga berada di DK PBB, “sangat marah” dan dilaporkan membatalkan pertemuan dengan Guterres yang mestinya dihelat pada Selasa sore.

Cohen juga menyangkal kekerasan dalam pendudukan Israel di Palestina yang disebut Guterres menjadi alasan dari serangan Hamas baru-baru ini. Cohen berujar Israel justru telah memberikan Palestina “hingga milimeter terakhir” wilayah mereka, dengan penarikan pasukan Tel Aviv pada 2005 silam.

Setelah pernyataannya heboh, Guterres pun meluruskan kembali maksud pidatonya. Dia berujar dirinya saat itu bicara tentang keluhan rakyat Palestina..

“Saya berbicara tentang keluhan rakyat Palestina. Dan dalam melakukan hal ini, saya juga dengan jelas menyatakan, dan saya mengutip: ‘Tetapi keluhan rakyat Palestina tidak dapat membenarkan serangan mengerikan yang dilakukan Hamas,’” Guterres menegaskan.

Ia juga mengaku kaget dengan misinterpretasi yang terjadi oleh berbagai pihak. Dia kemudian menegaskan tidak pernah membenarkan “tindakan teror” yang dilakukan Hamas.

“Saya terkejut dengan pemahaman keliru dalam beberapa pernyataan saya kemarin di Dewan Keamanan hingga seolah-olah saya membenarkan tindakan teror yang dilakukan Hamas,” ucapnya.

(bac)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *